Selamat Datang...Terimakasih -- Telah Berkunjung;tp masih dalam proses,Tapi - Jangan Lupa Bergabung...-- seadanya aja ya,he.."Jangan Menunggu Petang, Jadilah Sesegera Pagi!! -- http://iemaes.blogspot.com/... thank's;

Kamis, 31 Mei 2012

Mengapa Anda Memilih Islam Sebagai Agama Anda ?


          Ini merupakan nikmat yang harus saya syukuri, karena saya tidak memilih.Walaupun saya harus memilih saya memilih islam. Alhamdulillah saya di lahirkan dari seorang ibu muslim, ayah dan keluarga muslim beserta orang–orang di sekitar saya. Jadi bisa dikatakan saya termasuk islam keturunan juga karena keadaan di sekeliling tempat tinggal saya hidup bersama islam, dan itu tanpa saya sadari.
         Saya sadar baru sekarang saya memilih islam, alasannya banyak sekali yang bisa di kemukakan, diantaranya islam adalah agama yang membawa rahmat semesta atau yang lebih kerennya rahmatan lil’alamin, Islam mengajak kepada manusia pada tauhid dan menjauhi kemsyrikan. Islam tak sekedar mengatur ruhiyah manusia, tetapi sebuah jalan hidup (way of life) yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
Islam juga bukan hanya sekedar identitas saja, tetapi saya amat sedih sekarang masih banyak yang seperti itu. Kewajibannya tidak di laksanakan seperti shalat, puasa dan sebagainya. Apalagi sunnah-sunnahnya. Contohnya masih ada perempuan muslim yang belum melaksanakan kewjibannya yaitu menutup auratnya dengan mengenakan kerudung. Sewaktu di tanya mengapa belum atau tidak mengenakan kerudung? Jawabannya bermacam-macam. Ada yang jawab pakai kerudung itu gerah dan belum siap. Padahal gerahan mana di neraka dengan di dunia Kalau belum siap, siapnya kapan? Mungkin beberapa menit kemudian setelah di tanya itu, ajal menjemput.
       Betapa indahnya Islam, mulai dari cara berpakaian saja di atur. Bagaimana berpakaian atau berpenampilan sesuai dengan syariat Islam. Saya sendiri sebagai perempuan muslim di wajibkan untuk menutup aurat dengan mengenakan kerudung. Manfa’atnya sungguh luar biasa, selain bisa lebih terjaga juga di jaga. dan godaan untuk perempuan yang memakai kerudung atau tidak berbeda, yang saya rasakan sendiri alhamdulillah selama saya memakai kerudung belum ada orang-orang yang berani colak-colek cuma mereka biasanya mengucapkan salam seperti’ asalamualaikum bu haji?”berbeda dengan yang tidak bisa saja di mulai dari suitan atau kicauan dan yang lebih parah lagi sampai colak-colek bagian tubuh.
    Islam mengajarkan saya untuk berbuat baik kepada siapapun, bahkan kalau ada orang yang bertamu ke rumah walaupun kita tau bahwa orang itu musuh kita atau orang jahat, tapi posisi ia adalah sebagai tamu di rumah kita. Maka kita pun harus berbuat baik kepadanya, halnya tamu. Sungguh luar biasa ajaran islam itu, kisah sahabat nabi yang namanya saya lupa lagi. Ketika beliau berperang musuhnya itu hampir kalah. Pedangnya sudah di leher musuh kalu tidak salah begitu, tapi musuhnya meludahinya. Beliaupun tidak jadi membunuhnya. Kenapa? Karena beliau tidak mau membunuh musuhnya dalam keaaan marah, subhanallah. Dari kisah-kisah nabi dan para sahabatnya luar biasa, perlu saya jadikan contoh untuk hidup saya
   Saya sangat tidak setuju dengan dunia yang menganggap bahwa Islam itu identik dengan kekerasan ataupun sebagai teroris. Karena yang saya alami tidak seperti itu, tidak sesuai dengan faktanya, mereka hanya tau dari berita-berita bohong yang menyebar luas untuk menghancurkan Islam. Islam itu tidak keras tapi menyuruh untuk tegas, dimana ketegasan itu di sesuaikan dengan situasi dan kondisi missal saat perang. Terorisme yang mengatasnamakan jihad yang marak sekarang ini terjadi di negeri ini. Saya merasa sedih dan lebih utama tidak setuju. Jihad dengan saling membunuh, pemboman yang korbannya bukan saja orang-orang kafir, tempatnya salah, jihad seperti itu seharusnya di lakukan saat perang.
   Orang-orang kafir di negeri ini harus kita hargai keberadaannya. Mereka juga membayar pajak ke Negara kita. Islam memang menjunjung tinggi untuk berjihad, tapi yang sesuai dengan keadaan sekarang ini yaitu dengan jihad lisan. Harta, hati. Sebenarnya di negeri ini kita sedang perang, perang pemikiran atau yang sering di sebut dengan ghozul fikr dari kaum kafir untuk umat islam itu yang sangat mengkhawatirkan buat saya dan semuanya selaku umat Islam. Jadi saya tidak boleh malas untuk mengkaji islam, harus mengetahui kelemahan-kelemahan mereka, dan harus ada pertahanan dan membentengi diri seperti halnya pemain bola. Saya katakan lagi bahwa Islam bukanlah teroris.
   Sebelum saya mengenal Islam yang saya tahu Islam hanya sekedar shalat, puasa ataupun yang ada dalam rukun islam itu. Ternyata tidak demikian masih ada rukun iman yang enam yaitu iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, rasul, hari kiamat dan iman kepada khodo dan khodar. Keduanya ini saling berkaitan dan jika sudah ada keyakinan harus ada pengamalannya sebagai tanda pemahaman kita. Mengamalkan hanya salah satu rukun saja, berarti pincang artinya ibadah kita hanya ritual belaka.
Islam mewajibkan setiap muslim untuk terikat dengan syariat Islam ketika kita berbuat. Islam juga bukan sekedar teori belaka, tapi ada aspek amaliahnya. Islam harus saya pahami sebagai akidah dan syariat alias ideologi. Tapi bukan hanya saya tapi kita semua sebagai umat Islam.
  Kalau di tanya tentang Islam, memang saya belum paham dan saya ingin paham bukan hanya sekedar mengenal Islam, apalagi saat ini banyak aliran-aliran yang menyimpang dari agama Islam sendiri, supaya saya tidak ikut-ikutan jadi pengikutnya salah satu jalannya saya harus memahami Islam.
 Saya yakin dengan Islam dan saya juga harus bangga, Islam memberikan jalan kemudahan dengan ayat-ayat cinta dari Allah yang tertuang dalam Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia yang di turunkan melalui malaikat kepada nabi akhirul zaman yakni Nabi Muhammad saw dan sunnah-sunnahnya. kita harus bangga, taukah sebenarnya kaum yahudi sukses-sukses bukan karena kepinterannya atupun mereka cerdas-cerdas. Orang-orang Islam juga banyak yang seperti itu. Melainkan mereka bangga dengan agamanya sendiri yaitu yahudi. Orang kafir jalan keluar bawa-bawa kitab injilnya di tangannya mereka juga bangga, tapi kenapa orang Islam bawa Al-Qur’an malu gak berani, takut di bilang so alim atau so soleh dari pada so-soan. Seharusnya kita bangga, inilah Islam, inilah kitab suciku.
    Siapapun yang beragama, pasti berkata bahwa agama yang di anutnya yang paling benar. Tapi buat saya tidak, Islam bukan agama yang paling benar melainkan Islam adalah agama yang benar. Kalaupun paling benar, jadi ada agama yang benar sebelumnya, karena hanya agama Islam yang benar. Walaupun saya sendiri masih belum paham dengan Islam, sekarang masih dalam proses. Saya yakin pasti Allah memberikan jalan kemudahan bagi saya ataupun umatnya untuk menggapai ridho-Nya, dengan usaha dan do’a.

( oleh Imas Masitoh untuk tugas PAI semester I lalu)

Ada-ada Saja



Part #1 15 Desember 2008
Sore hari yang menenangkan dan melelahkan, hups aku masih mengerjakan pekerjaanku membuat sertifikat. Belum selesai semuanya di frint tiba-tiba komputernya diam tak berkutik membuat penggunanya malah berkutik (wah curang nih!). Tentu saja karena akibat ulah flasdiskku yang banyak virusnya, komputernya kena deh. Semoga kau memaafkannku komputer, eh maksudku kakakku. Karena yang punya komputer kakakku.
Sang malampun tiba, komputernya sudah hidup kembali. Akupun beranjak istirahat sejenak karena ketidaktenangan yang menimpaku tadi sore.
“Komputernya gimana yah? hidup lagi gak yah? Sakitnya parah kayaknya? kasihan komputernya,maksudku kakakku. Aku juga kasihan harus menjawab semua pertanyaan ini n_n”
Namun tiba-tiba HPku nyala, ada sms masuk dari orang yang ternyata aku kenal.
“asw. Antivirus VMJ tu pa yh? alny ssh bgt d hlnginnya.”
“w3.y VMJ tu ssh d hlnginnya, aku  jg lum tau  anti virusny apa,nnt dh ku tnyain ma paguru atw tmen2 d sklh”. Jawabku,tak lama kemudian balesan smspun dating.
“bner yh! D tnggu alny ssh bngt dihlnginny.”
“y insyAllh.”
“ok”
Setelah itu bunyi hp pun tidak terdengar lagi, yang ada malah jadi kufikirkan lagi. Tidak salah kalau di nanya soal virus, karena aku memang dijurusan komputer. Tapi virus yang tadi sore saja yang nyerang komputer kakakku aku belum bisa.
“ Wah bagaimana bisa ini, apa kira-kira antivirusnya? Seganas itukah? Apakah sama virusnya dengan yang tadi sore?” fikirku.
                                                ***
Riuh suara canda dan tawa teman-teman disekeliling kelas. Ditemani kursi yang siap di duduki dan meja yang siap digunakan untuk belajar. Begitu juga pulpen dan buku saling memandang satu dengan yang lainnya seolah-olah ingin bertegur sapa juga dengan pemiliknya.
“Ada pak guru-ada pak guru!” salah satu temanku berlari dari luar ke dalam kelas mencoba untuk memberi tahu teman-teman sekelas. Semuanyapun duduk di kursinya masing-masing dan pak gurupun dengan hebatnya menjelaskan mengenai jaringan komputer hingga tak terasa sudah hamper selesai.
“Silahkan ada yang ingin bertanya?”Tanya pak guru
Akupun langsung teringat dengan apa yang ingin kutanyakan, tapi entah kenapa ragu. Kok bisa jadi seperti ini, kucoba untuk mengangkat tangan, tapi rasanya tangannya tetap saja gak keatas-atas. Mulut ini rasanya sulit untuk di buka, yang ada hati ni dag-dig-dug. Dan pelajaranpun selesai. Eh setelah itu baru bisa teriak. Haaaaaaaaaaaaaaa (Ups)
***
Masih dalam rangka pencarian jawaban, apa ini jawabannya a, b, c, atau d. (wah ngelindur). Sudah tiga hari ini aku belum tahu jawabannya apa. Suatu kali setiap ada kesempatan ingin sekali bertanya pada teman-teman lelaki dikelas karena yang laki-laki lebih tahu biasanya mengenai komputer, tapi hanya bisa ku panggil namanya saja, setiap di tanya ada apa jawabnya tidak ada apa-apa. Karena lagi-lagi ragu untuk ditanyakan.
Malampun tiba,suara sms masuk terdengar ketikaku sedang asyik nonton TV. Akupun membuka smsnya. Ternyata dari yang aku kenal.
“asw.gmn kbrnya?, gmn dh ktmu lum antvirusnya?”
“w3.alhmdllh baik.mf lum ktmu nnti sy ushkn lg.”
“y tlng d crikan yh antvrusnya!”
“insyAllh, mmg biasanya vrus2kya gt ssh d basminya, mlh bkin error j.”
***
Seminggu kemudian, belum ada hasilnya. Dan pada hari minggu saat itu pula tanggal 25 Desember 2008 aku pergi sendiri untuk menghadiri silaturahmi teman-teman pelajar bertempat di serang dengan mengendarai kereta yang menjadi transportasi favorit termasuk aku. Tak terasa tibalah aku disebuah stasiun kereta di Serang, untuk menghepas lelah aku duduk didepan pintu karcis. Tiba-tiba ada perempuan yang sebaya dengan aku menghampiriku, karena melihat identitas di pin yang aku pakai sama dengannya.
Ternyata tujuan kita sama, karena merekalah yang menjadi tamu undangan disilaturahmi ini. Akhirnya kamipun dengan berjalan kaki bersama-sama menuju tempat yang di tuju. Tak terasa karena sambil ngobrol di jalan tiba juga di masjid agung, tapi itu bukan tujuannya hanya kumpulnya di mesjid dan ada yang akan jemput.
Setelah tiba di rumah salah satu pengurus, pelajar di serang. Mulai dari perkenalan sampai tukar pikiran kita lakukan dan menambah hangat pertemuan ini dengan berbagai macam nama,sifat sampai ke makanan dan minuman yang di sungguhkan. Ketika tukar fikiran mengenai keilmuan ataupun pengalaman, salah satu perempuan yang baru aku kenal menerangkan mengenai virus merah jambu. Tapi entah kenapa kata-kata ini tidak asing aku dengar. Setelah aku ingat-ingat dan aku rasa-rasa.
“Virus merah jambu atau VMJ ini bisa menyerang siapa saja tahu” tegas perempuan itu.
Benar saja, tiba-tiba mukaku memerah bak terbakar api, hatiku dag-dig dug tak karuan  “Inikah jawabannya yang aku cari”
Ditambah orang yang menanyakannya itu tertnyata hadir juga, semakin aku ingin tak melihatnya,mendengarnya, ataupunmenyapanya karena malu.kukira VMJ itu virus komputer ternyata virus merah jambu,virus hati. Apa katanya ketika ku balas smsnya, aku mesem-mesem sendiri jadinya ingin ketawa, tapi malu. Mungkin teman-teman baruku yang baru ku kenal aneh melihatku tapi taka pa lah. Meningan aku kabur saja. Eh maksudku pamit pulang, tak kuasa rasanya. Sudahlah cukup aku. Wk wk wk wk
(asrama, oleh : Petang (nama pena dari Imas masitoh))

selalu ada untukmu



Mengenalmu aku tak tahu
merindukannmu itu selalu
bahkan membicarakanmu saja ingin selalu

aku tak tahu darimana berawal
dan sampai kapan yang tiada akhirnya
berjuang dan tak kenal lelah itu yang ku mau
sampai semuanya tersenyum haru

walau usia ini terus menggerogotiku
aku tak mau hanya diam membisu
melihat mendengar goyahan itu terjadi padamu
dalam sisa-sisa usiaku
ingin kupersembahkan untukmu

walau kadang sempat dalam pikirku
kalau sudah tiada nanti siapa yang menggantikanku
sampai kapankah....
tapi impian itu 
yang selalu menyemangatiku
adik-adiku yang semangat selalu

 ka p mi

oleh Imas Masitoh pada 31 Mei 2012 pukul 14:20 

cintaku menyapa


birunya langit dan birunya laut tentu tak sama
hati yang terpaut karena cinta
indah dan damai rasanya


jika setiap saat  mengingatnya
selalu dekat dengannya
jika jauh merindukannya
dan semakin gelisah rasanya

aku takut cintaku menduakannya
cintaku menjadi buta

kucari cinta yang luar biasa
ternyata hanya kepadanya
cinta pada yang Maha Kuasa
karena aku merindukanNya

ya Rabb..
22 Mei 2011 pukul 9:21

Senin, 26 Maret 2012

cerpen

PERJUANGAN DIBALIK KERUDUNG
Oleh: petang
Lambaian angin mengoles diwajah Anisa yang ayu. Tapi ia tetap memandang ke arah langit menjadi saksi sang matahari mulai pergi perlahan dibalik gunung, seolah ia tak mempedulikannya dengan menopang tangan didagu di jendela kamarnya.
“Apakah benar?” Tanya Anisa menggumam. Ia ingat apa yang dikatakan ibu gurunya tadi pagi di sekolah.
“Kamu berdosa Sa!” Kata ibu guru
“Memang Sa salah apa bu? Anisa kan sudah berbakti sama orang tua, tidak berbohong, tidak menyontek dan yang lainnya juga!”Jawab Anisa.
“Lihat diri kamu, kamu cantik, pintar dan sekarang kamu sudah bukan lagi anak SD kamu sudah SMP. Kamu berdosa karena belum menutup auratmu dengan berkerudung, dengan berkerudung kamu pasti lebih cantik dan Allah pun akan semakin sayang sama Anisa.”
“Apakah benar Bu?”
Ibu gurunya pun mengangguk dan tersenyum sambil mengusap kepala Anisa.
“Anisa berdosa karena Nisa belum menutup aurat Anisa.”
***
“Ibu lihat Anisa, Sa sudah melaksanakan perintah ibu!”
“Wah cantik sekali, menutup aurat itu bukan perintah ibu tapi perintah Allah.”
“Baju dan kerudung siapa yang kamu pakai Sa?” Tanya ibu guru.
“He, ini baju dan kerudung umi Anisa, hanya ini yang Sa temukan di lemari umi. Walaupun masih kebesaran di pakai Anisa, he..he!”
Itulah pertama kali Anisa memakai kerudung di sekolahnya. Walau pada waktu itu hanya ia yang baru memakai kerudung dan Anisa sudah akrab dengan tatapan-tatapan aneh serta ejekan-ejekan teman-temannya di sekolah. Tapi ia tak memperdulikannya.
Ketika di rumahnya pun ia memakai baju panjang uminya yang kebesaran dipakai Anisa. Karena Anisa belum punya pakaian yang bisa menutup aurat. Ayahnya sangat mendukung Anisa. Walupun uminya belum mengenakan apa yang dipakai oleh Anisa tapi uminya pun mendukung keinginan anaknya, Anisa.
Suatu hari ketika Anisa akan membeli pakaian lebaran dengan uminya di pasar. Tak lupa ia mengenakan baju uminya dan kerudung di pakai seadanya. Baju uminya pun yang panjang sudah Anisa pakai semua. Dan Anisa mencoba menggunakan kesempatan ini untuk membeli baju panjang dan roknya. Karena kesempatan ini hanya Anisa lakukan satu kali dalam setahun untuk membeli pakaian baru, yaitu lebaran.
“Umi, Anisa beli yang ini saja ya!” Anisa sambil tersenyum.
“lho ini kan, baju untuk seumuran umi”
“Gak apa-apa kan mi, nanti umi juga bisa pakai punya Anisa juga. He”
Tapi yang ia cari waktu itu tidak Anisa temukan, ia malah menemukan baju dan rok panjang di pakaian buat ibu-ibu. Ia pun membelinya.
***
Kini Anisa sudah lulus SMP dan memutuskan untuk masuk Madrasah Aliyah saja, karena Anisa fikir inilah pilihan yang tepat untuknya agar apa yang ia kenakan juga bisa bertahan.
Ia pun menemukan yang sama dengan apa yang ia kenakan. Walau kebanyakan hanya di sekolah yang ia lihat, ketika teman-temannya di luar sekolah. Mahkota surga bernama kerudung itu tidak lagi mereka kenakan. Itu yang membuat Anisa sedih.
“Kenapa?”
Untuk itu Anisa pun berusaha untuk memberikan pemahaman kepada teman-temanya. Karena rasa cinta kepada teman-temanya ia tidak mau teman-temannya berdosa karena menutup auratnya hanya di sekolah saja. Dengan membuat artikel-artikel ataupun buletin sampai mendatangkan ustad dan ustadzah di sekolahnya.
“Apakah takut dengan peraturan sekolah?”
“Apakah takut karena guru?”
“Takutlah hanya pada Allah!”
Ia pun menyayangkan teman-temannya di luar yang satu SMP dulu yang sampai sekarang belum mengenakan kerudung.
Untuk saudariku
Tercinta….
Apakah mahkota surga itu
Membuatmu
Gerah, dan panas?
Apakah kau belum siap mengenakannya?
Apakah kau malu mengenakannya karena tidak sesuai dengan akhlakmu?
Neraka bukankah lebih panas?
Kalau belum siap, kapan siapnya?
Kita tidak tahu nafas kita apakah masih berhembus?
Malu? Tahu kah saudariku dengan berkerudung berarti kamu mempunyai keinginan untuk menjadi lebih baik lagi
Ingin ku lihat kau memakai mahkota surga itu, sebelum nafas terakhirku .
I love u coz Allah
Anisa
Anisa mencoba menulis surat cinta untuk temannya dalam buku tulisnya. Tak terasa butiran permata keluar dari matanya membasahi buku tulisnya.
“Ya Rabb,…!
Anisa pun tertidur.
***
Jalan itu biar lebih bagus harus ada turunan dan tanjakan, dan biar lebih menantang di bubuhi batu-batu kerikil. Hingga berakhir di sebuah taman yang indah, di sana bisa melepas kelelahan.
Ketika sudah Aliyah pun cobaan dan ujian yang menimpa Anisa tak ada hentinya karena kerudungnya. Ketika Anisa akan melakukan pemotoan untuk fhoto yang ditempel di izazah. Ia dan teman-temanya harus buka kerudung. Sekolah tidak membolehkan siswinya di fhoto mengenakan kerudung. Hampir semua teman-temannya membuka kerudungnya untuk difhoto. Tapi tidak untuk Anisa. Sekarang giliran Anisa untuk difhoto.
“Kerudung kamu tidak dibuka?” Tanya tukang fhoto.
“Buat apa pak dibuka, Anisa takut pak pada yang menciptakan Anisa.”Jawab Anisa.
“Kalau begitu, kami juga tidak mau buka kerudung Sa.” Tambah Hesti dan Nayla teman bangku Anisa.
“Ya sudah terserah kalian, yang penting saya menjalankan tugas saya.”
Akhirnya setelah jadi fhoto-fhotonya, Anisa dan teman-temannya yang difhoto pakai kerudung dipanggil oleh kepala sekolah. Dan menyuruh mereka difhoto ulang untuk membuka kerudungnya supaya kelihatan telinganya.
Anisa dan teman-temannya pun difhoto ulang, tapi mereka tetap memakai kerudung walau waktu itu difhoto pakai kerudung tapi telinganya diperlihatkan. Setelah jadi, mereka pun di panggil lagi oleh kepala sekolah. Untuk kesekian kalinya disuruh untuk membuka kerudungnya saat difhoto. Dan untuk sekian kalinya juga mereka menolak, terutama Anisa.
“Maaf pak, Anisa tidak mau buka kerudung Anisa!”
Dengan penuh keyakinan Anisa dan teman-temannya pun pergi ke rumah ibu guru yang pertama kalinya mengajak untuk memakai kerudung dan setiap ada permasalahan ia meminta pendapat ibu gurunya. Termasuk permasalahan yang dialami Anisa dan teman-temannya kali ini.
“Bu kami harus bagaimana?”
“Insya Allah pasti ada jalan keluarnya, dan jangan lupa untuk selalu berdo’a yah”
Dengan melalui ibu gurunya mendatangi langsung kepala sekolahnya sampai meminta pertolongan kepada MUI di daerah tempat Anisa sekolah. Akhirnya Anisa dan teman-temannya Hesti dan Nayila pun diperbolehkan untuk memakai kerudung untuk fhoto izazahnya.
Anisa pun bersujud syukur. Dan berterimakasih kepada ibu gurunya. Dengan rasa haru mereka pun saling berpelukan.
Inilah cerita indah dari Anisa waktu itu, sekarang zamannya sudah bukan seperti dulu lagi, tunggu apa lagi ayo pakailah mahkota surga yang bernama kerudung itu.(Anisa)
Rangkasbitung, 24 Maret 2012



cerpen


JILBAB NISA
oleh : Petang (Imas Masitoh)
Jejalanan masih berdebu, para penguasa masih berkuasa, rakyat tidak bisa melakukan apa-apa. Setiap ada yang kritis terhadap pemerintah penjara menjadi rumah setianya. Ya inilah zaman ketika itu. Langkahpun terhenti dan mati, itu hanya pilihannya. Zaman inilah berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap banyak merugikan umat Islam. Ketika itu Nisa masih duduk di bangku SMA Negeri yang ada di pusat kota.
“Aku akan memakai jilbab” Nisa berkata pada dirinya di depan kaca tua di kamarnya. Ketika Nisa masuk sekolah tampak ada yang berbeda dari dirinya, orang-orang melihatnya dengan tatapan aneh. Tapi tak Nisa hiraukan, tapi ia beri mereka senyuman dan sapaan, itulah Nisa. Ketika Nisa memasuki kelas, teman-temannyapun aneh melihatnya dan ia langsung duduk. Tiba-tiba salah satu temannya mendekatinya.
“Nisa kenapa kamu pake jilbab?” Tanya Mela temannya.
“Nisa ingin menutup aurat, dan ini sebagai bentuk rasa cinta Nisa kepada Allah.” Jawab Nisa.
“Tapi, sekolah melarang untuk pakai jilbab.”
“Gak apa-apa, Nisa akan tetap pekai jilbab dan tidak akan takut Mel, Nisa hanya takut kepada Allah.” Amelpun merinding mendengar jawaban dari Nisa.
Bel berbunyi memberi tahu bahwa pelajaran akan dimulai, Nisa dan teman-teman di kelasnya merapihkan diri, duduk di tempatnya masing-masing, dan suara serba-serbi mulai padam ketika guru masuk kelas.
“Nisa kamu keluar!” Gurunya menyuruh Nisa untuk keluar, tidak boleh mengikuti pelajaran di dalam kelas.
“Ma’af Bu kenapa Nisa harus keluar, Nisa kan tidak melakukan kesalahan apa-apa.”
“Apakah kamu tahu peraturan sekolah salah satunya tidak boleh memakai jilbab!”
“Ya tahu bu, tapi ini adalah hak Nisa sebagai wanita Muslim.” Nisa berusaha untuk membela diri, tapi Gurunya tetap dengan alasan memakai jilbab, Nisa telah melanggar peraturan sekolah tidak boleh ikut pelajarannya.
“Ya Allah, berilah Nisa kesabaran.” Dalam hati Nisa berdo’a. Nisapun keluar tapi malah membuat Nisa bersemangat untuk mengikuti pelajaran di luar kelas walau hanya bisa mendengarkan dan bertemankan bangku panjang dan udara dingin di pagi itu. Dan Nisa dapat membuktikan kepada teman-temannya bahwa prestasinya selalu lebih unggul walau hanya dapat belajar di luar kelas.
***
Hari berganti hari telah Nisa lalui, di sebuah Taman kecil depan kelasnya banyak bunga didatangi kupu-kupu menambah indah. Nisapun duduk di bawah pohon rindang sambil membaca buku dengan Amel.
“Nisa, bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?” Tanya Amel sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Ya boleh Mel, tumben ada apa nih tidak seperti biasanya.” Jawab Nisa sambil memberikan senyuman yang mungkin termanis saat itu kepada Amel.
“Aku sayang dan cinta sama Nisa, bolehkan aku mengungkapkan ini?”
“Dan gak mau sampai kehilangan kamu, Nisa”
“Tentu boleh sekali, bukankah Rasul juga telah mengajarkan kita untuk mengungkapkan rasa cinta itu kepada sesama yang sama-sama perempuan dan laki- laki ke laki-laki lagi maksudnya untuk lebih mengikatkan rasa persaudaran.”
“Kaya Nisa mau ke mana saja gak mau kehilangan”
“Ikhhhh…serius!”
“Iya, ya Nisa juga sayang dan cinta sama Amel, semoga Allah juga mencintaimu Amel karena kau telah mencintaiku karenaNya” Tiba-tiba Amel lebih mendekati Nisa duduknya.
“Nisa sudahlah, kamu jangan dulu pakai jilbab di sekolah aku sedih melihatmu akhir-akhir ini yang menimpamu, tidak bisa ikut pelajaran di kelas, dan kamu suka dapat hukuman terus.”
“Amel terimakasih sudah memberiku perhatian, jangan bersedih ya! Nisa masih bisa bersyukur walau hanya ikut pelajaran di luar kelas, mendapatkan hukuman, tatapan-tatapan aneh dari temen-temen di sini. Nisa yakin Allah telah mempersiapkan kejutan indah untuk Nisa nanti. Terlebih lagi Nisa bahagia bisa kenal dan punya teman seperti Amel.” Jawab Nisa mencoba menenangkan Amel. Nisapun mendekap erat Amel, tak tertahan mutiara-mutiara cinta yang menyerupai tetesan embun keluar dari mata Amel.
Setelah keputusannya untuk memakai jilbab, memang hampir semua pelajaran Nisa di ancam tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas. Ketika olahraga harus pakai celana pendek di atas lutut,dan bahkan sering dihukum, kecuali jika Nisa membuka jilbabnya. Itulah yang membuat Amel temannya sedih melihatnya.
***
“Teeeeeeeeeeeeet….”
Bel sekolah berbunyi, semua siswa-siswi riuh untuk pulang meninggalkan kelas dan sekolah. Nisa dan Amel seperti biasa akan pulang bersama, tetapi sebelum mereka sampai ke gerbang sekolah. Tiba-tiba Nisa dipanggil oleh teman laki-lakinya.
“Nisa kamu dipanggil oleh kepala sekolah!”
“Ya terimakasih.”
Nisa pun langsung menemui pak kepala sekolah dengan Amel. Di depan kantor pak kepala sekolah sudah menunggu Nisa.
“Ma’af pak saya Nisa, ada apa pak Nisa dipanggil?”
“Nisa kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan di sekolah ini?”
“Ma’af maksudnya apa pak?”
“Lihat diri kamu, kamu sudah melanggar peraturan sekolah!”
“Maksud bapak karena Nisa pakai jilbab?”
“Iya, di sekolah ini tidak boleh ada yang memakai jilbab. Dan lihat gara-gara perbuatanmu ada yang mengikutimu pakai jilbab!”
Tiba-tiba siswa-siswi yang akan pulang, mengerumuni Nisa dan kepala sekolah penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Bukan kah itu bagus pak?”
“Dan mohon ma’af Nisa tidak merasa berbuat salah pak, yang membuat peraturan sekolah itu yang salah, karena itu hak Nisa sebagai siswi yang beragama Islam untuk memakai jilbab!”
“Sudahlah Nisa..!” Amel mencoba untuk menenangkan Nisa.
“Sekarang kamu tinggal pilih, kamu tetap memakai jilbab dan dikeluarkan dari sekolah ini atau kamu tidak memakai jilbab dan tetap sekolah di sekolah ini!”
“Nisa akan tetap memakai jilbab dan tetap sekolah di sekolah ini!”
Serentak semua teman-teman Nisa dan siswa-siswi yang melihat kejadian ini dan mendengar jawaban Nisa, kaget atas jawaban dan keberanian Nisa.
“Ma’af pak dicukupkan saja, tidak enak banyak anak-anak nanti saja dilanjutkan.” Saran salah satu guru yang mendekati pak kepala sekolah dan mencoba untuk menenangkannya.
Dan akhirnya semuanya dibubarkan, Nisa dan Amel pun langsung pulang. Sejak kejadian itu, siswa-siswi di sekolah Nisa rame membicarakan kejadian Nisa dan pak Kepala Sekolah. Komentar mereka pun beragam, ada yang mendukung Nisa dan mereka pun langsung menemui Nisa di kelasnya untuk berdiskusi mengenai jilbab. Dan akhirnya mereka pun berjilbab. Ada juga yang menjauhi Nisa, karena menurut mereka Nisa termasuk siswi yang nakal tidak mengikuti peraturan sekolah. Akhirnya mereka memusuhi Nisa. Walupun begitu, Nisa tetap berbuat baik kepada mereka dan tidak menganggap mereka sebagai musuhnya.
***
Aksi besar-besaran terjadi waktu itu,ribuan orang bernyawa memenuhi seluruh jalan menuju rumah yang disebut sebagai wakil rakyat. Dan rezim pemerintahan bisa diturunkan.
Akhirnya Nisa dan teman-temannya bisa lega, karena tidak ada lagi yang mengasingkannya, tidak ada lagi Nisa harus mengikuti pelajaran di luar kelas, dapat hukuman sampai tidak ada lagi yang melarangnya untuk berjilbab. Karena dengan bergulirnya pemerintahan, sekolah pun membolehkan siswi-siswinya yang beragama Islam untuk berjilbab. Inilah pada waktu itu Nisa berjilbab.
Serang, 26 Maret 2012

Selasa, 11 Oktober 2011

Memupuk mental sebagai mujahidah


Membela islam adalah kewajiban yang juga di pikulkan ke pundak muslimah. Apa yang harus di lakukan muslimah di medan jihad? Bagaimana pula peranannya ketika tinggal di negri yang aman?


Bagi Muslimah yang berada di medan jihad, banyak yang bisa dilakukan. Jika ia seorang muslimah yang masing single, peran di medan jihad bisa lebih luas, ia bisa menjadi tentara, jika kalangan laki-laki sudah tak memadai untuk membela islam. Selain itu juga sebagai tenaga medis untuk menyelamatkan korban yang berjatuhan,. Atau bisa juga membantu di bagian logistic, membantu memasak untuk korban perang, memasak minuman dll

Lantas bagi musimah yang peranannya sebagai seorang ibu, menyelamatkan anak-anak adalah hal utama, itu naluriah, wajar. Itu juga bagian dari tugas suci. Anak-anak adalah generasi penerus perjuangan yang wajib d ilindungi. Jika berhasil dari kubangan konflik, maka tugas ibu untuk mendidik generasi mujahid bisa terus dilakukan. Seorang mujahid akan terus lahir dari tangan mujahidah.


Untuk itu tugas ibu selanjutnya adalah membekali anak-anak dengan pemahaman akan jihad sejak dini anak-anak harus di siapkan mentalnya bagaimana jika mereka tiba-tiba kehilangan ayah atau ibunya. Anak-anak harus dididik mandiri seja kecil, di ajarkan tanggung jawab agar ia siap memikul beban syariah dari Allaah ‘azza wa jalla begitu baigh.
Lebih dari itu muslimah dimanapun berada harus siap memiliki mental mujahidah, bahkan mentalnya jauh harus lebih kuat dibandingkan mujahid. Bayangkan serang muslimah memiliki resiko terbesar untuk kehilangan orang-orang terkasihnya.

Resiko pertama, ia bisa kehilangan ayahnya, suaminya dan anak lelaki dewasanya yang sudah barang tentu para mujahid. Resiko selanjutnya, ia bisa kehilangan anak-anaknya yang masih balita di medan konflik. Dan terakhir, resiko kehilangan nyawanya sendiri.
Jadi mental utama yang harus di tanamkan adalah
Siap kehilangan segalanya, tak hanya harta benda, rumah, benda kesayangan, namun juga orang-orang yang dicintai. Siap kehilangan orangtua, suami, calon suami, saudara kandung atau anak-anak.
Siap kehilangan ini harus terhujam kuat di dalam dada. Harus diingat bahwa segala yang dimiliki di dunia ini hakikatnya titipan dari Allaah ‘azza wa jalla yang sewaktu-waktu diambil. Muslimah harus siap jangan sampai penyakit dunia merasuk dalam hati.

Ingatlah, firman Allaah ‘azza wa jalla; katakanlah, “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kleuargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan keruiannya, dan rumah-rumah tepat tinggal yang kamu cintai dari pada Allaah dan Rasulnya serta jihad di jalannya, maka tunggulan sampai Allaah mendatangkan keputusannya” dan Allaah tidak member petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At Taubah ;24)

Saat ini kecintaan terhadap keduniaan begitu besarnya mengalahkan kecintaan kepada Allaah ‘azza wa jalla, maka mulailah menambah kecintaan kepada Allaah ‘azza wa jalla. Misalnya, cinta kepada anak-anak bisa jadi sulit untuk dikurangi, maka cinta kepada Allaah lah yang harus ditambah.
Mental selanjutnya adala siap mati. Ya perempuan, hampir selalu jadi korban di medan jihad. Sekalipun tidak berada di garda terdepan, resiko mati adalah suatu keniscayaan.

Maka bekal apakah yang kelak akan di bawa ke hadapan-Nya? Itulah ang harus direnungkan. Hendaknya setiap hari senantiasa memperbaiki amalan. Kelak ketika panggilan jihad itu tiba, tiak ada lagi halangan utuk menyongsong Surga-Nya.

Do’a Umar bin Khatab r.a.
“Yaa Allaah berilah aku mati syahid di jalanmu dan jadikanlah saat kematian di negri RasulMu”

Aku Wanita Mujahidah Sejati…
Yang tercipta dari tulang rusuk lelaki yang berjihad..
Bilakah khan datang seorang peminang menghampiriku mengajak tuk berjihad..

Kelak ku akan pergi mendampinginya di bumi Jihad..
Aku selalu siap dengan semua syarat yang diajukannya..
cinta Allah, Rasul dan Jihad Fisabilillah
Aku rela berkelana mengembara dengannya lindungi Dienullah
Ikhlas menyebarkan dakwah ke penjuru bumi Allah
Tak mungkin ku pilih dirimu.. .bila dunia lebih kau damba…
Terlupa kampung halaman, sanak saudara bahkan harta yang terpendam..
Hidup terasing apa adanya.. asalkan di akhirat bahagia…
Bila aku setuju dan kaupun tidak meragukanku…

Bulat tekadku untuk menemanimu…
Aku Wanita mujahidah pilihan…
Yang mengalir di nadiku darah lelaki yang berjihad…
Bilakah khan datang menghampiriku seorang peminang yang penuh ketawadhu`an…

Kelak bersamanya kuarungi bahtera lautan jihad…
Andai tak siap bisa kau pilih…
Agar kelak batin, jiwa dan ragamu tak terusik,
terbebani dengan segala kemanjaanku, kegundahanku, kegelisahanku…
terlebih keluh kesahku…
Tak mungkin aku memilihmu…
bila yang fana lebih kau cinta…
Lupa akan kemilau dunia dan remangnya lampu kota…
lezatnya makanan dan lajunya makar durjana…
Sebab meninggalkan dakwah karena lebih mencintaimu…
dan menanggalkan pakaian taqwaku karena laranganmu…
Meniti jalan panjang di medan jihad…
Yang ada hanya darah dan airmata tertumpah…
serta debu yang beterbangan,
keringat luka dan kesyahidan pun terulang…
Jika masih ada ragu tertancap dihatimu…
Teguhkan `azzam`ku tuk lupa akan dirimu…
Aku wanita dari bumi Jihad…
Dengan sekeranjang semangat berangkat ke padang jihad…
Persiapkan bekal diri menanti pendamping hati, pelepas lelah serta kejenuhan…

tepiskan semua mimpi yang tak berarti…
Adakah yang siap mendamaikan Hati ??
Karena tak mungkin kulanjutkan perjalanan ini sendiri…
tanpa peneguh langkah kaki.. pendamping perjuangan…
Yang melepasku dengan selaksa do`a…
meraih syahid… tujuan utama…

Robbi… terdengar panggilanMu tuk meniti jalan ridhoMu…
Kuharapkan penolong dari hambaMu… menemani perjalanan ini…