Selamat Datang...Terimakasih -- Telah Berkunjung;tp masih dalam proses,Tapi - Jangan Lupa Bergabung...-- seadanya aja ya,he.."Jangan Menunggu Petang, Jadilah Sesegera Pagi!! -- http://iemaes.blogspot.com/... thank's;

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Sekolah di Ujung Pagi


Oleh: petang (imas masitoh)


Di pagi hari yang cerah, langit tak berselimutkan  awan, tetesan  embun  di dedaunan masih berbekas  hujan semalam tadi dan tak terasa bola besar berwarna terang semakin tinggi semakin hangat  pula tubuh oleh sinarnya mentari.  Ujang masih saja menatap langit di jendela kamarnya sembari memegang buku dan pulpennya. Tiba-tiba ia pun tersenyum sendiri seolah memang ada yang sedang difikirkannya.
“Ujang, ayo cepat berangkat ke sekolah nanti kesiangan!” Ibunya mencoba mengingatkan.
“Iya Emak.” Kata Ujang sambil mencium tangan ibunya.
“Assalaamu’alaikum.”
“Walaikumsalaam.”
Ujangpun bergegas pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, tinggal beberapa meter lagi sampai di sekolah, Ujang  kembali lagi ke rumahnya mengambil barang yang ketinggalan.
Aya naon Ujang, balik deui ka imah?”
“Buku Ujang ketinggalan Emak!”
                                                                        ***
            Ketika istirahat Ujang seperti biasanya pergi ke belakang sekolah duduk di bawah pohon  rindang, tak lupa buku dan pulpen yang selalu setia menemaninya. Ujang pun seolah berteriak membaca puisi yang ditulisnya.
Teruntuk dunia, aku tahu aku hanya sekolah yang beralaskan kayu
            Teruntuk akherat, kelak aku ingin mencapai syurgaNya..
Tiba-tiba terdengar ada yang bertepuk tangan menghampirinya, dan ternyata adalah temannya, Nina.
            “Kenapa kamu Jang tidak ikut main dengan teman-temanmu?”Tanya Nina sambil mendekatinya.
            “Kau tahu Nina, aku lagi ingin sendiri. Kok kamu ada disini?”
            “Aku mengantarkan surat dari sekolahku, oya Ada lomba baca puisi Se-Provinsi di sekolah kakakku pekan besok, temanya tentang sekolahku, ini pampletnya, kamu bisa ikut kan?”
            Belum Ujang sempat menjawabnya, bel sekolah berbunyi tanda belajar di kelas akan dimulai lagi, Nina bergegas pergi keluar pagar dengan menaiki mobil pribadinya karena ia sekolah berbeda dengan tempat Ujang sekolah. Nina bersekolah di sekolah yang sudah terkenal di tempat tinggalnya. Nina rumahnya tidak jauh dengan tempat tinggal Ujang.
            “Aku Ujang, aku harus ikut!” Dalam hati Ujang.
Tak terasa bel pulang berbunyi, Ujang, Asep, Lis dan Tatang pulang berjalan kaki bersama-sama. Tak lupa ibu gurunya pun ikut berjalan kaki. Mereka asyik bercengkrama membicarakan tentang sekolah dengan Ibu gurunya.
“Bu, kapan sekolah kita bagus seperti sekolah punya Nina?” tanya Tatang.
“Maksud kamu bagus apanya Tang, bangunannya? “Tanya Lis.
            “Sekolah kita sudah bagus kok, kata siapa belum. Lihat sekarang yang sekolah di sekolah kita siapa? Kan ada kalian, anak-anak ibu yang baik-baik dan pintar-pintar.” Jawab ibu guru sambil tersenyum.
            “Ah ibu ini bisa saja!” Ujang sambil menggaruk-garuk kepalanya.
            “Kenapa kamu Jang?Banyak kutunya?” Canda Asep, semuanyapun tertawa.  
***
          “Emak, buku Ujang bentar lagi habis, patlot Ujang juga semakin pendek.”
           “Sabar yah Jang, Emak sekarang tidak ada uang, bapak juga belum ada kabar kapan bisa pulang.” Jawab ibunya  yang sedang masak sambil mengusap keningnya yang berkeringat akibat rasa panas didekat tungku.  
            “Lagi pula masih bisa kan buku dan pensilnya dipakai.”
            ‘Iya Emak.” Tahan Ujang sambil menunduk menuju kamarnya.
             Ketika Ujang sampai di kamarnya ia melihat pamplet lomba puisi yang di berikan oleh Nina yang ditempel di dinding dekat lemari kamarnya.
           “Ah lombanya sebentar lagi, aku harus siap-siap, tapi untuk registrasinya ada tidak yah?” Ujangpun mengambil kotak berwarna ijo tua di bawah ranjangnya yang mulai reod. Dan kotak itu adalah celengannya.
             Dan seperti biasa ia menulis dibukunya yang tinggal sedikit lagi lembarannya yang kosong juga patlotnya yang semakin mengecil.
                                                                ***
            “Peserta selanjutnya dengan nomor urut 08 atas nama Ujang dari SD Islam Cimayang.“ Teriak panitia lomba.
              Ujang pun bergegas pergi ke arah panggung. Setelah beberapa lama bersorak semuanya kagum atas penampilan Ujang.
             Setelah selesai Ujang pun langsung duduk kembali di kursi yang telah disediakan oleh panitia. Tiba-tiba Nina dan kakaknya mendekatinya.
           “Subhanallah Jang penampilanmu bagus.” Kakaknya Nina mencoba memuji Ujang.
            “Ya Jang bagus sekali, aku bangga punya teman seperti kamu.” Tambah Nina.
 Ujangpun hanya tersenyum.
             “Jang kamu sendirian kesininya, Ibu guru dan teman-teman kamu mana?” Tanya Nina.
              “Iya  Ujang sendirian, Ibu guru dan teman-teman belum bisa kesini, karena jaraknya yang lumayan jauh. Jadi Ujang juga khawatir merepotkan mereka.” Jawab Ujang.
           “Ya udah Ujang pulang duluan yah maaf tidak bisa sampai akhir, tadi Ujang sudah izin kepada panitia. Soalnya Ujang naik kereta kalau sudah sore keretanya tidak ada.”
           “Di anterin yah!” Ajak Nina.
           “Tidak usah, terimakasih yah kak, Nina.”
            ‘Ongkosnya ada?”
           “Iya ada, pamit yah Nina, Kak.”
           “Ya sudah hati-hati yah.”
           “Iya, assalaamualaikum.”
           “Walaikumsalaam.”
            Nina dan kakaknya masih melihat kepergian Ujang sampai tidak terlihat lagi tubuhnya yang kecil, mereka sangat kagum dengan keberanian Ujang. Ujang merupakan peserta  yang datang pertama tanpa ditemani dengan siapapun. Dan sekolahnyapun belum tahu kalau Ujang ikut lomba puisi Se-Provinsi di sekolah kakaknya Nina.
***
               Pagi-pagi sekali Ujang berangkat ke sekolah dengan seperti biasa berjalan kaki, dan dengan tujuan bisa bertemu Nina untuk mendapatkan informasi mengenai lomba puisi kemarin.
“Bagaimana Nina, siapa yang dapat juara puisi?” Tanya Ujang.
“Maaf Jang, kamu tidak dapat juara.” Jawab Nina.
“Iya tidak apa-apa.” Jawab Ujang sambil menundukkan kepala.
Padahal, Ujang sangat berharap bisa mendapat juara dilomba puisi Se-Provinsi itu, karena hadiahnya Ujang ingin membeli buku dan pulpen yang baru, terlebih yang paling utama bisa mengharumkan nama sekolahnya.
Setiba di sekolah ternyata semua siswa harus berkumpul di lapangan ada pengumuman penting dari sekolah, Ujangpun berlari pergi ke kelas menyimpan tasnya dan langsung pergi ke lapangan.
Ternyata pengumumannya adalah bahwa ada yang telah meraih prestasi yaitu melalui lomba. Semua siswa pun gembira mendengarnya dan mulai penasaran  siapa orangnya. Ternyata siswa yang berprestasi itu adalah Asep mendapat juara 1 lomba pidato, Lis juara II lomba  Sains, dan Tatang  juara II lomba menggambar. Semuanya terperangah dengan pengumuman tadi. Dan ternyata Asep, Lis dan Tatang juga tidak memberitahu sekolah bahwa mereka mengikuti lomba itu. Dan mereka mengikuti lomba di sekolah kakaknya Nina, hanya dihari yang berbeda. Oleh karena itu, Asep, Lis, Tatang pada kaget. Dan ternyata mereka punya niatan yang sama dengan Ujang salah satunya ingin mengharumkan sekolahnya. Dan sekolah sangat berterima kasih kepada mereka karena telah mengharumkan sekolah.
“Dan ada satu lagi pengumuman.” Kata kepala sekolah.
Serempak semuanya diam penasaran. Pengumumannya adalah ada siswa baru ternyata siswa baru itu Nina temannya Ujang. Nina pun diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan bahwa ia sangat kagum terhadap sekolah barunya, siswa-siswanya yang baik, ramah, ditambah berprestasi dan bisa menjadi tauladan bagi sekolah yang lain.  Dan sekolah barunya  merupakan sekolah Impiannya.
“Salah satu contohnya adalah Ujang keadaannya tidak memadamkan semangatnya untuk sekolah, iapun pemberani dan akhlaknya yang baik serta berprestasi dan alhamdullillah ia telah mendapatkan juara pertama lomba baca puisi Se-Provinsi di sekolah kakakku, selamat yah Ujang, maaf Nina bohong dulu padamu soalnya ingin memberikan kabar bahagia ini di depan teman-temanmu juga.” Sambil menyalami Ujang.  Semuanya bertepuk tangan dan menangis haru atas kabar bahagia yang di dapat di sekolah mereka.  Akhirnya Ujangpun bisa membeli buku dan pensilnya yang baru. 

Kamis, 31 Mei 2012

Ada-ada Saja



Part #1 15 Desember 2008
Sore hari yang menenangkan dan melelahkan, hups aku masih mengerjakan pekerjaanku membuat sertifikat. Belum selesai semuanya di frint tiba-tiba komputernya diam tak berkutik membuat penggunanya malah berkutik (wah curang nih!). Tentu saja karena akibat ulah flasdiskku yang banyak virusnya, komputernya kena deh. Semoga kau memaafkannku komputer, eh maksudku kakakku. Karena yang punya komputer kakakku.
Sang malampun tiba, komputernya sudah hidup kembali. Akupun beranjak istirahat sejenak karena ketidaktenangan yang menimpaku tadi sore.
“Komputernya gimana yah? hidup lagi gak yah? Sakitnya parah kayaknya? kasihan komputernya,maksudku kakakku. Aku juga kasihan harus menjawab semua pertanyaan ini n_n”
Namun tiba-tiba HPku nyala, ada sms masuk dari orang yang ternyata aku kenal.
“asw. Antivirus VMJ tu pa yh? alny ssh bgt d hlnginnya.”
“w3.y VMJ tu ssh d hlnginnya, aku  jg lum tau  anti virusny apa,nnt dh ku tnyain ma paguru atw tmen2 d sklh”. Jawabku,tak lama kemudian balesan smspun dating.
“bner yh! D tnggu alny ssh bngt dihlnginny.”
“y insyAllh.”
“ok”
Setelah itu bunyi hp pun tidak terdengar lagi, yang ada malah jadi kufikirkan lagi. Tidak salah kalau di nanya soal virus, karena aku memang dijurusan komputer. Tapi virus yang tadi sore saja yang nyerang komputer kakakku aku belum bisa.
“ Wah bagaimana bisa ini, apa kira-kira antivirusnya? Seganas itukah? Apakah sama virusnya dengan yang tadi sore?” fikirku.
                                                ***
Riuh suara canda dan tawa teman-teman disekeliling kelas. Ditemani kursi yang siap di duduki dan meja yang siap digunakan untuk belajar. Begitu juga pulpen dan buku saling memandang satu dengan yang lainnya seolah-olah ingin bertegur sapa juga dengan pemiliknya.
“Ada pak guru-ada pak guru!” salah satu temanku berlari dari luar ke dalam kelas mencoba untuk memberi tahu teman-teman sekelas. Semuanyapun duduk di kursinya masing-masing dan pak gurupun dengan hebatnya menjelaskan mengenai jaringan komputer hingga tak terasa sudah hamper selesai.
“Silahkan ada yang ingin bertanya?”Tanya pak guru
Akupun langsung teringat dengan apa yang ingin kutanyakan, tapi entah kenapa ragu. Kok bisa jadi seperti ini, kucoba untuk mengangkat tangan, tapi rasanya tangannya tetap saja gak keatas-atas. Mulut ini rasanya sulit untuk di buka, yang ada hati ni dag-dig-dug. Dan pelajaranpun selesai. Eh setelah itu baru bisa teriak. Haaaaaaaaaaaaaaa (Ups)
***
Masih dalam rangka pencarian jawaban, apa ini jawabannya a, b, c, atau d. (wah ngelindur). Sudah tiga hari ini aku belum tahu jawabannya apa. Suatu kali setiap ada kesempatan ingin sekali bertanya pada teman-teman lelaki dikelas karena yang laki-laki lebih tahu biasanya mengenai komputer, tapi hanya bisa ku panggil namanya saja, setiap di tanya ada apa jawabnya tidak ada apa-apa. Karena lagi-lagi ragu untuk ditanyakan.
Malampun tiba,suara sms masuk terdengar ketikaku sedang asyik nonton TV. Akupun membuka smsnya. Ternyata dari yang aku kenal.
“asw.gmn kbrnya?, gmn dh ktmu lum antvirusnya?”
“w3.alhmdllh baik.mf lum ktmu nnti sy ushkn lg.”
“y tlng d crikan yh antvrusnya!”
“insyAllh, mmg biasanya vrus2kya gt ssh d basminya, mlh bkin error j.”
***
Seminggu kemudian, belum ada hasilnya. Dan pada hari minggu saat itu pula tanggal 25 Desember 2008 aku pergi sendiri untuk menghadiri silaturahmi teman-teman pelajar bertempat di serang dengan mengendarai kereta yang menjadi transportasi favorit termasuk aku. Tak terasa tibalah aku disebuah stasiun kereta di Serang, untuk menghepas lelah aku duduk didepan pintu karcis. Tiba-tiba ada perempuan yang sebaya dengan aku menghampiriku, karena melihat identitas di pin yang aku pakai sama dengannya.
Ternyata tujuan kita sama, karena merekalah yang menjadi tamu undangan disilaturahmi ini. Akhirnya kamipun dengan berjalan kaki bersama-sama menuju tempat yang di tuju. Tak terasa karena sambil ngobrol di jalan tiba juga di masjid agung, tapi itu bukan tujuannya hanya kumpulnya di mesjid dan ada yang akan jemput.
Setelah tiba di rumah salah satu pengurus, pelajar di serang. Mulai dari perkenalan sampai tukar pikiran kita lakukan dan menambah hangat pertemuan ini dengan berbagai macam nama,sifat sampai ke makanan dan minuman yang di sungguhkan. Ketika tukar fikiran mengenai keilmuan ataupun pengalaman, salah satu perempuan yang baru aku kenal menerangkan mengenai virus merah jambu. Tapi entah kenapa kata-kata ini tidak asing aku dengar. Setelah aku ingat-ingat dan aku rasa-rasa.
“Virus merah jambu atau VMJ ini bisa menyerang siapa saja tahu” tegas perempuan itu.
Benar saja, tiba-tiba mukaku memerah bak terbakar api, hatiku dag-dig dug tak karuan  “Inikah jawabannya yang aku cari”
Ditambah orang yang menanyakannya itu tertnyata hadir juga, semakin aku ingin tak melihatnya,mendengarnya, ataupunmenyapanya karena malu.kukira VMJ itu virus komputer ternyata virus merah jambu,virus hati. Apa katanya ketika ku balas smsnya, aku mesem-mesem sendiri jadinya ingin ketawa, tapi malu. Mungkin teman-teman baruku yang baru ku kenal aneh melihatku tapi taka pa lah. Meningan aku kabur saja. Eh maksudku pamit pulang, tak kuasa rasanya. Sudahlah cukup aku. Wk wk wk wk
(asrama, oleh : Petang (nama pena dari Imas masitoh))

Senin, 26 Maret 2012

cerpen

PERJUANGAN DIBALIK KERUDUNG
Oleh: petang
Lambaian angin mengoles diwajah Anisa yang ayu. Tapi ia tetap memandang ke arah langit menjadi saksi sang matahari mulai pergi perlahan dibalik gunung, seolah ia tak mempedulikannya dengan menopang tangan didagu di jendela kamarnya.
“Apakah benar?” Tanya Anisa menggumam. Ia ingat apa yang dikatakan ibu gurunya tadi pagi di sekolah.
“Kamu berdosa Sa!” Kata ibu guru
“Memang Sa salah apa bu? Anisa kan sudah berbakti sama orang tua, tidak berbohong, tidak menyontek dan yang lainnya juga!”Jawab Anisa.
“Lihat diri kamu, kamu cantik, pintar dan sekarang kamu sudah bukan lagi anak SD kamu sudah SMP. Kamu berdosa karena belum menutup auratmu dengan berkerudung, dengan berkerudung kamu pasti lebih cantik dan Allah pun akan semakin sayang sama Anisa.”
“Apakah benar Bu?”
Ibu gurunya pun mengangguk dan tersenyum sambil mengusap kepala Anisa.
“Anisa berdosa karena Nisa belum menutup aurat Anisa.”
***
“Ibu lihat Anisa, Sa sudah melaksanakan perintah ibu!”
“Wah cantik sekali, menutup aurat itu bukan perintah ibu tapi perintah Allah.”
“Baju dan kerudung siapa yang kamu pakai Sa?” Tanya ibu guru.
“He, ini baju dan kerudung umi Anisa, hanya ini yang Sa temukan di lemari umi. Walaupun masih kebesaran di pakai Anisa, he..he!”
Itulah pertama kali Anisa memakai kerudung di sekolahnya. Walau pada waktu itu hanya ia yang baru memakai kerudung dan Anisa sudah akrab dengan tatapan-tatapan aneh serta ejekan-ejekan teman-temannya di sekolah. Tapi ia tak memperdulikannya.
Ketika di rumahnya pun ia memakai baju panjang uminya yang kebesaran dipakai Anisa. Karena Anisa belum punya pakaian yang bisa menutup aurat. Ayahnya sangat mendukung Anisa. Walupun uminya belum mengenakan apa yang dipakai oleh Anisa tapi uminya pun mendukung keinginan anaknya, Anisa.
Suatu hari ketika Anisa akan membeli pakaian lebaran dengan uminya di pasar. Tak lupa ia mengenakan baju uminya dan kerudung di pakai seadanya. Baju uminya pun yang panjang sudah Anisa pakai semua. Dan Anisa mencoba menggunakan kesempatan ini untuk membeli baju panjang dan roknya. Karena kesempatan ini hanya Anisa lakukan satu kali dalam setahun untuk membeli pakaian baru, yaitu lebaran.
“Umi, Anisa beli yang ini saja ya!” Anisa sambil tersenyum.
“lho ini kan, baju untuk seumuran umi”
“Gak apa-apa kan mi, nanti umi juga bisa pakai punya Anisa juga. He”
Tapi yang ia cari waktu itu tidak Anisa temukan, ia malah menemukan baju dan rok panjang di pakaian buat ibu-ibu. Ia pun membelinya.
***
Kini Anisa sudah lulus SMP dan memutuskan untuk masuk Madrasah Aliyah saja, karena Anisa fikir inilah pilihan yang tepat untuknya agar apa yang ia kenakan juga bisa bertahan.
Ia pun menemukan yang sama dengan apa yang ia kenakan. Walau kebanyakan hanya di sekolah yang ia lihat, ketika teman-temannya di luar sekolah. Mahkota surga bernama kerudung itu tidak lagi mereka kenakan. Itu yang membuat Anisa sedih.
“Kenapa?”
Untuk itu Anisa pun berusaha untuk memberikan pemahaman kepada teman-temanya. Karena rasa cinta kepada teman-temanya ia tidak mau teman-temannya berdosa karena menutup auratnya hanya di sekolah saja. Dengan membuat artikel-artikel ataupun buletin sampai mendatangkan ustad dan ustadzah di sekolahnya.
“Apakah takut dengan peraturan sekolah?”
“Apakah takut karena guru?”
“Takutlah hanya pada Allah!”
Ia pun menyayangkan teman-temannya di luar yang satu SMP dulu yang sampai sekarang belum mengenakan kerudung.
Untuk saudariku
Tercinta….
Apakah mahkota surga itu
Membuatmu
Gerah, dan panas?
Apakah kau belum siap mengenakannya?
Apakah kau malu mengenakannya karena tidak sesuai dengan akhlakmu?
Neraka bukankah lebih panas?
Kalau belum siap, kapan siapnya?
Kita tidak tahu nafas kita apakah masih berhembus?
Malu? Tahu kah saudariku dengan berkerudung berarti kamu mempunyai keinginan untuk menjadi lebih baik lagi
Ingin ku lihat kau memakai mahkota surga itu, sebelum nafas terakhirku .
I love u coz Allah
Anisa
Anisa mencoba menulis surat cinta untuk temannya dalam buku tulisnya. Tak terasa butiran permata keluar dari matanya membasahi buku tulisnya.
“Ya Rabb,…!
Anisa pun tertidur.
***
Jalan itu biar lebih bagus harus ada turunan dan tanjakan, dan biar lebih menantang di bubuhi batu-batu kerikil. Hingga berakhir di sebuah taman yang indah, di sana bisa melepas kelelahan.
Ketika sudah Aliyah pun cobaan dan ujian yang menimpa Anisa tak ada hentinya karena kerudungnya. Ketika Anisa akan melakukan pemotoan untuk fhoto yang ditempel di izazah. Ia dan teman-temanya harus buka kerudung. Sekolah tidak membolehkan siswinya di fhoto mengenakan kerudung. Hampir semua teman-temannya membuka kerudungnya untuk difhoto. Tapi tidak untuk Anisa. Sekarang giliran Anisa untuk difhoto.
“Kerudung kamu tidak dibuka?” Tanya tukang fhoto.
“Buat apa pak dibuka, Anisa takut pak pada yang menciptakan Anisa.”Jawab Anisa.
“Kalau begitu, kami juga tidak mau buka kerudung Sa.” Tambah Hesti dan Nayla teman bangku Anisa.
“Ya sudah terserah kalian, yang penting saya menjalankan tugas saya.”
Akhirnya setelah jadi fhoto-fhotonya, Anisa dan teman-temannya yang difhoto pakai kerudung dipanggil oleh kepala sekolah. Dan menyuruh mereka difhoto ulang untuk membuka kerudungnya supaya kelihatan telinganya.
Anisa dan teman-temannya pun difhoto ulang, tapi mereka tetap memakai kerudung walau waktu itu difhoto pakai kerudung tapi telinganya diperlihatkan. Setelah jadi, mereka pun di panggil lagi oleh kepala sekolah. Untuk kesekian kalinya disuruh untuk membuka kerudungnya saat difhoto. Dan untuk sekian kalinya juga mereka menolak, terutama Anisa.
“Maaf pak, Anisa tidak mau buka kerudung Anisa!”
Dengan penuh keyakinan Anisa dan teman-temannya pun pergi ke rumah ibu guru yang pertama kalinya mengajak untuk memakai kerudung dan setiap ada permasalahan ia meminta pendapat ibu gurunya. Termasuk permasalahan yang dialami Anisa dan teman-temannya kali ini.
“Bu kami harus bagaimana?”
“Insya Allah pasti ada jalan keluarnya, dan jangan lupa untuk selalu berdo’a yah”
Dengan melalui ibu gurunya mendatangi langsung kepala sekolahnya sampai meminta pertolongan kepada MUI di daerah tempat Anisa sekolah. Akhirnya Anisa dan teman-temannya Hesti dan Nayila pun diperbolehkan untuk memakai kerudung untuk fhoto izazahnya.
Anisa pun bersujud syukur. Dan berterimakasih kepada ibu gurunya. Dengan rasa haru mereka pun saling berpelukan.
Inilah cerita indah dari Anisa waktu itu, sekarang zamannya sudah bukan seperti dulu lagi, tunggu apa lagi ayo pakailah mahkota surga yang bernama kerudung itu.(Anisa)
Rangkasbitung, 24 Maret 2012



cerpen


JILBAB NISA
oleh : Petang (Imas Masitoh)
Jejalanan masih berdebu, para penguasa masih berkuasa, rakyat tidak bisa melakukan apa-apa. Setiap ada yang kritis terhadap pemerintah penjara menjadi rumah setianya. Ya inilah zaman ketika itu. Langkahpun terhenti dan mati, itu hanya pilihannya. Zaman inilah berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap banyak merugikan umat Islam. Ketika itu Nisa masih duduk di bangku SMA Negeri yang ada di pusat kota.
“Aku akan memakai jilbab” Nisa berkata pada dirinya di depan kaca tua di kamarnya. Ketika Nisa masuk sekolah tampak ada yang berbeda dari dirinya, orang-orang melihatnya dengan tatapan aneh. Tapi tak Nisa hiraukan, tapi ia beri mereka senyuman dan sapaan, itulah Nisa. Ketika Nisa memasuki kelas, teman-temannyapun aneh melihatnya dan ia langsung duduk. Tiba-tiba salah satu temannya mendekatinya.
“Nisa kenapa kamu pake jilbab?” Tanya Mela temannya.
“Nisa ingin menutup aurat, dan ini sebagai bentuk rasa cinta Nisa kepada Allah.” Jawab Nisa.
“Tapi, sekolah melarang untuk pakai jilbab.”
“Gak apa-apa, Nisa akan tetap pekai jilbab dan tidak akan takut Mel, Nisa hanya takut kepada Allah.” Amelpun merinding mendengar jawaban dari Nisa.
Bel berbunyi memberi tahu bahwa pelajaran akan dimulai, Nisa dan teman-teman di kelasnya merapihkan diri, duduk di tempatnya masing-masing, dan suara serba-serbi mulai padam ketika guru masuk kelas.
“Nisa kamu keluar!” Gurunya menyuruh Nisa untuk keluar, tidak boleh mengikuti pelajaran di dalam kelas.
“Ma’af Bu kenapa Nisa harus keluar, Nisa kan tidak melakukan kesalahan apa-apa.”
“Apakah kamu tahu peraturan sekolah salah satunya tidak boleh memakai jilbab!”
“Ya tahu bu, tapi ini adalah hak Nisa sebagai wanita Muslim.” Nisa berusaha untuk membela diri, tapi Gurunya tetap dengan alasan memakai jilbab, Nisa telah melanggar peraturan sekolah tidak boleh ikut pelajarannya.
“Ya Allah, berilah Nisa kesabaran.” Dalam hati Nisa berdo’a. Nisapun keluar tapi malah membuat Nisa bersemangat untuk mengikuti pelajaran di luar kelas walau hanya bisa mendengarkan dan bertemankan bangku panjang dan udara dingin di pagi itu. Dan Nisa dapat membuktikan kepada teman-temannya bahwa prestasinya selalu lebih unggul walau hanya dapat belajar di luar kelas.
***
Hari berganti hari telah Nisa lalui, di sebuah Taman kecil depan kelasnya banyak bunga didatangi kupu-kupu menambah indah. Nisapun duduk di bawah pohon rindang sambil membaca buku dengan Amel.
“Nisa, bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu?” Tanya Amel sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Ya boleh Mel, tumben ada apa nih tidak seperti biasanya.” Jawab Nisa sambil memberikan senyuman yang mungkin termanis saat itu kepada Amel.
“Aku sayang dan cinta sama Nisa, bolehkan aku mengungkapkan ini?”
“Dan gak mau sampai kehilangan kamu, Nisa”
“Tentu boleh sekali, bukankah Rasul juga telah mengajarkan kita untuk mengungkapkan rasa cinta itu kepada sesama yang sama-sama perempuan dan laki- laki ke laki-laki lagi maksudnya untuk lebih mengikatkan rasa persaudaran.”
“Kaya Nisa mau ke mana saja gak mau kehilangan”
“Ikhhhh…serius!”
“Iya, ya Nisa juga sayang dan cinta sama Amel, semoga Allah juga mencintaimu Amel karena kau telah mencintaiku karenaNya” Tiba-tiba Amel lebih mendekati Nisa duduknya.
“Nisa sudahlah, kamu jangan dulu pakai jilbab di sekolah aku sedih melihatmu akhir-akhir ini yang menimpamu, tidak bisa ikut pelajaran di kelas, dan kamu suka dapat hukuman terus.”
“Amel terimakasih sudah memberiku perhatian, jangan bersedih ya! Nisa masih bisa bersyukur walau hanya ikut pelajaran di luar kelas, mendapatkan hukuman, tatapan-tatapan aneh dari temen-temen di sini. Nisa yakin Allah telah mempersiapkan kejutan indah untuk Nisa nanti. Terlebih lagi Nisa bahagia bisa kenal dan punya teman seperti Amel.” Jawab Nisa mencoba menenangkan Amel. Nisapun mendekap erat Amel, tak tertahan mutiara-mutiara cinta yang menyerupai tetesan embun keluar dari mata Amel.
Setelah keputusannya untuk memakai jilbab, memang hampir semua pelajaran Nisa di ancam tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas. Ketika olahraga harus pakai celana pendek di atas lutut,dan bahkan sering dihukum, kecuali jika Nisa membuka jilbabnya. Itulah yang membuat Amel temannya sedih melihatnya.
***
“Teeeeeeeeeeeeet….”
Bel sekolah berbunyi, semua siswa-siswi riuh untuk pulang meninggalkan kelas dan sekolah. Nisa dan Amel seperti biasa akan pulang bersama, tetapi sebelum mereka sampai ke gerbang sekolah. Tiba-tiba Nisa dipanggil oleh teman laki-lakinya.
“Nisa kamu dipanggil oleh kepala sekolah!”
“Ya terimakasih.”
Nisa pun langsung menemui pak kepala sekolah dengan Amel. Di depan kantor pak kepala sekolah sudah menunggu Nisa.
“Ma’af pak saya Nisa, ada apa pak Nisa dipanggil?”
“Nisa kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan di sekolah ini?”
“Ma’af maksudnya apa pak?”
“Lihat diri kamu, kamu sudah melanggar peraturan sekolah!”
“Maksud bapak karena Nisa pakai jilbab?”
“Iya, di sekolah ini tidak boleh ada yang memakai jilbab. Dan lihat gara-gara perbuatanmu ada yang mengikutimu pakai jilbab!”
Tiba-tiba siswa-siswi yang akan pulang, mengerumuni Nisa dan kepala sekolah penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Bukan kah itu bagus pak?”
“Dan mohon ma’af Nisa tidak merasa berbuat salah pak, yang membuat peraturan sekolah itu yang salah, karena itu hak Nisa sebagai siswi yang beragama Islam untuk memakai jilbab!”
“Sudahlah Nisa..!” Amel mencoba untuk menenangkan Nisa.
“Sekarang kamu tinggal pilih, kamu tetap memakai jilbab dan dikeluarkan dari sekolah ini atau kamu tidak memakai jilbab dan tetap sekolah di sekolah ini!”
“Nisa akan tetap memakai jilbab dan tetap sekolah di sekolah ini!”
Serentak semua teman-teman Nisa dan siswa-siswi yang melihat kejadian ini dan mendengar jawaban Nisa, kaget atas jawaban dan keberanian Nisa.
“Ma’af pak dicukupkan saja, tidak enak banyak anak-anak nanti saja dilanjutkan.” Saran salah satu guru yang mendekati pak kepala sekolah dan mencoba untuk menenangkannya.
Dan akhirnya semuanya dibubarkan, Nisa dan Amel pun langsung pulang. Sejak kejadian itu, siswa-siswi di sekolah Nisa rame membicarakan kejadian Nisa dan pak Kepala Sekolah. Komentar mereka pun beragam, ada yang mendukung Nisa dan mereka pun langsung menemui Nisa di kelasnya untuk berdiskusi mengenai jilbab. Dan akhirnya mereka pun berjilbab. Ada juga yang menjauhi Nisa, karena menurut mereka Nisa termasuk siswi yang nakal tidak mengikuti peraturan sekolah. Akhirnya mereka memusuhi Nisa. Walupun begitu, Nisa tetap berbuat baik kepada mereka dan tidak menganggap mereka sebagai musuhnya.
***
Aksi besar-besaran terjadi waktu itu,ribuan orang bernyawa memenuhi seluruh jalan menuju rumah yang disebut sebagai wakil rakyat. Dan rezim pemerintahan bisa diturunkan.
Akhirnya Nisa dan teman-temannya bisa lega, karena tidak ada lagi yang mengasingkannya, tidak ada lagi Nisa harus mengikuti pelajaran di luar kelas, dapat hukuman sampai tidak ada lagi yang melarangnya untuk berjilbab. Karena dengan bergulirnya pemerintahan, sekolah pun membolehkan siswi-siswinya yang beragama Islam untuk berjilbab. Inilah pada waktu itu Nisa berjilbab.
Serang, 26 Maret 2012